/> BERKISAH CINTA DI BUKIT CINTA LEMBATA (MENANTI SENJA KEMBALI KE PERADUAN) | Muh. Amiruddin Salem

BERKISAH CINTA DI BUKIT CINTA LEMBATA (MENANTI SENJA KEMBALI KE PERADUAN)

Pulau Lembata. Cukup untuk menjadi tempat yang penuh akan kenangan, bagaimana tidak, ini adalah pertama kali aku mengajak istri untuk bertemu keluarga besar dikampung halaman setelah 7 bulan pernikahan LDR antara Malang dan Kupang.

 

Aku bahagia. Mengingat istri yang selalu tertarik pada matahari terbenam (sunset). Toh, itu hanya sekadar ritual rutin setiap sore saat dikupang. Sama seperti aktivitas manusia, ada waktunya dia bangun lalu bekerja dan ada waktu pula dia pulang ke peraduan. Selama sekitar 2 Minggu dikampung halaman (Leuwohung) kami memutuskan untuk kembali ke Kupang. Sesamapinya di Lewoleba (Lembata), sebelum berangakat dengan feri ke kupang kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar Lewoleba, destinasi yang dikunjungi adalah Bukit Cinta.

 

Letaknya berada di Desa Bour, Kecamatan Nubatukan. Dari Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata dengan menunggangi sepeda motor, kami bergerak ke arah utara, menyusuri jalanan aspal yang mulus sembari menikmati indahnya punggung-punggung bukit yang ditumbuhi rumput-rumput kering, perpaduan laut yang luas, pesisir pantai berpasir putih, bayang-bayang Gunung Ile Boleng Adonara, dan bentangan langit biru di angkasa terpampang menyerupai lukisan alam hidup yang elok dipandang.

 

Bahagia rasanya bisa mengajak istri melihat laut dari dekat yang jarang dia lihat selama di Malang, berselfi ria mengabadikan foto dengan background sunset yang sangat indah, sedangkan saya sudah menjadi kewajiban untuk mengambil gambar dengan handphone seperti seorang fotografer pribadi, karena dengan ini sudah cukup untuk menjadi alasan bahwa Aku bahagia. Dan, aku yakin istri pun bahagia dengan moment ini

 

Saat kami berdua berdiri di depan tugu utama bertuliskan ‘LOVE’ matahari sudah banyak condong ke barat. Bias-bias sinarnya memberikan efek siluet jingga berpadu dengan cerahnya cakrawala senja hari. Dari kejauhan matahari seperti akan jatuh tenggelam ke dalam pelukan bayangan Pulau Flores. Kami berdiri terpaku menyaksikan peristiwa alam (Sunset), matahati kemerahan tenggelam perlahan  dibibir laut. Sembari mendengarkan kicauan burung di hamparan savana perbukitan itu. Kami pun semakin betah memadu kasih dan berkisah tentang cinta di pondok-pondok cinta yang membentang dilereng bukit menghadap laut. 

 








 

 





Lecturer Traveler

Perkenalkan nama saya Muh. Amiruddin Salem orang-orang yang kenal saya biasa memanggil saya Amir. saya asli Leuwohung, Lembata NTT. Melalui blog ini, mari kita jalin tali silaturahmi Salam Hangat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda